Search This Blog

Monday, 23 January 2012

episode hujan

perjalanan ke malang kali ini diiringi oleh hujan. Sampai di terminal bungurasih sudah disambut langit hitam yang pekat,dan tepat ketika bus memasuki tol,langit mulai mencurahkan hasil kondensasi uap air-hujan.

tidak ada perbedaan rute,hanya suasana hati yang berbeda. Tapi,setiap kali naik bus patas,saya selalu memilih posisi di dekat jendela. Entah mengapa,efek lukisan di luar jendela mampu membuat saya berpikir lebih jernih. Tentang banyak hal,tentang bersyukur,tentang rumah,tentang keluarga,tentang sekolah,tentang kematian. Yang terakhir,selalu membuat saya takut dan khawatir (meskipun,sebenarnya seorang muslim harus siap menghadapi kematian kapan pun/dimanapun).

Hujan kali ini cukup deras,dan berangin,hingga mampu menunjukkan eksistensi batang dan daun. Pun hati saya,cukup deras oleh kecamuk. Yang menyelinap setiap kali saya menginjakkan kaki di tempat bernama 'rumah'. Masih teringat kalimat bapak mario teguh 'jika tidak mampu menjadi perantara kebaikan dan kedamaian orang lain,maka cukuplah lakukan yang terbaik untuk orang tersebut,dan buatlah mereka bangga,karena pada hakikatnya setiap hamba akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri'. That's what am i trying to do right now. Rasanya cukup lelah diri ini mencoba untuk berdamai,dan selalu memperbaiki. Karena respon yang didapat pun,kadang membuat kelenjar lacrimal bekerja ekstra. Ibarat cuaca,maka saya menciptakan musim semi untuk menyamarkan musim hujan dan musim dingin (lah...tropis dan subtropis).

Hujan mulai reda,meskipun masih menyisakan rintik. Masih ada bekas tetesan air di luar jendela.
Indah..untuk disyukur
Khidmat..untuk direnungkan
Dingin...untuk dijadikan pelajaran..
Agar tak lagi dingin yang menusuk..namun cukup indah dan khidmat.

*episode hujan*

No comments:

Post a Comment